Siapa Saya

Rizaldi Siagian adalah musikus sekaligus akademikus, dalam bidang etnomusikologi. Setelah menyelesaikan program magister dari San Diego State University (SDSU), California, USA, 1985. Ia mempelajari berbagai tradisi musik dunia melalui tokoh-tokoh seniman dan akademisi terkemuka di Amerika Serikat, di antaranya musik Afrika, Brasil, Korea, Jawa-Bali, teori komprehensif musik Barat, dan tradisi musik klasik India Selatan (Karnataka). Studi mayor-nya adalah musik India klasik dengan bimbingan dan guru maestro Prof. K.V. Narayanaswami (Madras University) dalam tehnik vokal dan raga (sistem musik modal India) serta Prof. Dr. Robert E. Brown, tentang sistem tala (konsep ritem India klasik). Hasil penelitian dari studi mayornya itu ia tulis melalui dokumen ilmiah: “The Performance and Theory of South Indian Clasical Music with Special Emphasis on the Characteristic of the Raga Kalyani.” Tesis ini kemudian menjadi rujukan oleh kelompok musik Barat abad pertengahan, Jubilatores, ketika menjelaskan konsep kesenian mereka di sebuah situs Internet. Juga oleh Barry E. Ebersole dalam Medieval Musical Performance (1997) dan Medieval Music—Performance Style and Technique. Selama di SDSU ia pendapat kepercayaan menjadi asisten dosen mata kuliah pilihan, Sumatran Ensemble (gordang sambilan, gendang melayu, dan gondang boru).

Mengajar di Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Sastra, USU, mulai tahun 1985 dan diangkat menjadi ketua jurusan hingga tahun 1992. Saat ia meninggalkan perguruan tinggi negeri di Medan itu, Rizaldi Siagian telah merancang dan menerapkan kurikulum etnomusikologi bersama Philip Yampolsky, Endo Suanda, Marc Perlman, Ashley Turner, dan Edward C. Van Ness. Dalam kurun itu juga ia mendokumentasikan berbagai tradisi musik Sumatera bagian Utara, audio dan video, untuk pengembangan arsip suara di Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Sastra, USU. Pekerjaan dokumentasi ini menjadi rujukan bagi Linda Connor dan Patsy Asch dalam karya mereka, Workshop on the Use of Technology in Documenting Traditional Indonesian Culture and Performing Arts (University of North Sumatra), diterbitkan Fall 1991, Vol 7, No. 2, hlm 111-112. Ia juga anggota Dewan Redaksi Jurnal Masyarakat Musikologi Indonesia, sekarang Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), yang berbasis di Surakarta (1990); sebagai pembicara dalam Seminar Kebudayaan Melayu Sedunia di Johor Baru tentang instrumen gambus belalang dalam tradisi tari Zapin (2001); dan penyelia teknik pencatatan peralatan musik (organologi) di Museum Nasional, Jakarta, 2004.

Bermusik sejak tahun 1970, sebagai rocker. Dalam seni tradisi, banyak mencipta karya-karya musik untuk tarian Melayu, terutama tradisi Zapin, dan aktif dalam industri musik melalui karya-karya aransemen musik lokal di Medan. Dari tahun 1976-1982 berkali-kali mengikuti misi kesenian Sumatera Utara ke berbagai negara, antara lain Malaysia, Singapura, dan Inggeris, salah satunya adalah pertunjukan kesenian Sumatera Utara di Royal Albert Hall, London (1981). Selama belajar di Amerika ia anggota San Diego State University Gamerlan Orchestra yang dipimpin oleh Empu Ki Wasito Dipuro (1983), kemudian menjadi anggota tim peneliti untuk mengisi ilustrasi musik dalam film layar (super) lebar, Indonesia Indah, Imax Theater, Keong Emas TMII di Laguna, California (1984) bersama Robert E. Brown, Ki Wasito Dipuro, Rahayu Supanggah, dan I Wayan Rai.

Dalam dunia media, Rizaldi Siagian memenangkan paket-paket produksi televisi siaran budaya dengan pendekatan video-etnografi yang diselenggarakan TVRI Pusat: juara pertama dengan karya Gondang (1987), juara ketiga dalam karya Ndilo Wari Udan (1988), dan juara kedua melalui karya Kumandang Garau di Kaki Bukit Barisan (1989). Tahun 1991 ia koordinator sekaligus sutradara artistik tim kesenian Sumatera Utara—Toba, Karo, dan Mandailing—dalam Pameran Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS), tur Eropah, serta pemrakarsa kegiatan seni dalam konteks lingkungan hidup, Arts For Nature, kerjasama antara Dewan Kesenian Sumatera Utara dan WWF.

Rizaldi Siagian menyutradari berbagai seni pertunjukan kesenian Sumatera Utara ke berbagai festival manca negara: merancang dan menyutradari pertunjukan tradisi vokal Nias yang ia beri nama Megalithic Vocal Ensemble, pada Festival Kondalota (1992), Festival Indonesia di Paris, Jenewa, Basel, Bonn, Berlin, Bohum, Muenchen, Amsterdam, bersama seniman-seniman Sumatera Utara dalam pertunjukan musik tradisi Toba, Simalungun, Karo (1993) yang disponsori Extra European Art Committee. Tahun 1994 ia memimpin tim kesenian Sumatera Utara menggelar musik tradisi Batak Toba dalam Adelaide Festival, Australia, bersama-sama dengan dalang Anom Soeroto, Endo Suanda, W.S. Rendra, dan sastrawan Goenawan Muhammad.

Pada tahun 2000, bersama Rinto Harahap, ia mendirikan group musik Grenek yang berorientasi pada karya kolaboratif musik Melayu dan musik populer—menghasilkan album Grenek I, 2001. Kurun 2002-2004 ia menjadi sutradara musik dan performer dalam program televisi: Senggal-Senggol (RCTI), Salam Mesra (RCTI), dan Hidup Halal (TVRI). Dalam acara 40 tahun Harian Kompas (di JHCC, Jakarta) dan HUT RI ke 60 (GWK, Bali), Rizaldi Siagian menggagas konsep dan menyutradari Konser Musik Megalitikum Kuantum (2005).

Pada tahun 2003-2005 menjadi anggota staf ahli peneliti di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Universitas Indonesia, dalam penelitian Industri Budaya yang diketuai Prof. Dr. Edi Sedyawati. Tahun 2005-2007 menjadi anggota tim penelti tentang hak cipta di tengah-tengah masyarakat kesenian Indonesia bersama para ahli hak cipta dari sejumlah universitas luar negeri: Prof. Dr. Peter Jaszi dari American University, Washington, D.C., (Ketua), Dr. Jane Anderson dari New York University, Prof. Dr. Lorraine Aragon dari North Caroline University, serta Prof. Dr. Agus Sardjono dan Ranggalawe Suryasaladi dari Universitas Indonesia, Ignatius Haryanto, Lembaga Study Pers dan Pembangunan, Hinca Panjaitan, Indonesia Law & Policy Center, dan Abdon Nababan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan secara bersama-sama menulis hasil penelitian dalam sebuah laporan: Traditional Arts: A Move Toward Protection in Indonesia (2007, dalam proses penerbitan).

Dua kegiatan internasional terakhir: Mei 2007, menjadi anggota delegasi masyarakat adat mewakili Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ( AMAN), dalam sidang UNPFII (United Nations Permanent Forum on Indigenous Issues) di PBB, New York; sebagai observer dalam Asian African Forum On Intellectual Property and Traditional Cultural Expression, Traditional Knowledge and Genetic Resources, Juni 2007, di Bandung.

“Hutanku Meratap” (My Forest’s Tears) adalah salah satu karyanya dari sekumpulan karya kolaboratifnya dengan penyair A. Slamet Widodo. Karya film dokumenter musikal ini mendapat penghargaan internasional di Jepang dengan predikat Asia-Oseania Newcomer Award, dalam festival Film Internasional: Japan Wildlife Film Festival ’09, Agustus 2009; penghargaan Internasional dari Wold Bank bidang Social Department dalam kontes film mikro-dokumenter dalam konteks Social Dimension of Climate Change, Vulnerability Exposed, Januari 2009.

Saat ini ia menjadi Penasihat Ahli Sekjend AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). dan bersama AMAN ia menggerakkan kegiatan penggalian potensi seni budaya di tengah-tengah masyarakat adat nusantara dalam sebuah konsep dan tajuk yang diberinya nama: Mendulang Mitos, sebuah program pengembangan ekonomi kreatif yang bersumber dari pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional masyarakat adat.

Advertisements

4 Responses to “Siapa Saya”

  1. […] Siapa Saya September 2008 […]

  2. […] Saat ini ia menjadi Penasihat Ahli Sekjen AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). Bersama AMAN ia menggerakkan kegiatan penggalian potensi seni budaya di tengah-tengah masyarakat adat nusantara dalam sebuah konsep dan tajuk yang diberinya nama, ’Mendulang Mitos’, sebuah program pengembangan ekonomi kreatif yang bersumber dari pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya tradisional masyarakat adat. Mau tau Profil lengkapnya Siapa Rizaldi Siagian Lihat Disini […]

  3. […] seniman Batak adalah Bapak Rizaldi Siagian, seorang etnimusikolog dari kampung halamanku, Medan. Ia juga sempat menjadi dekan di […]

  4. […] Rizaldi Siagian ketika ditanya tentang krisis identitas yang mendera anak muda Indonesia dalam lingkup kebudayaan. […]

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: