Catatan Konsep Mitos (5): Penciptaan

•July 21, 2011 • Leave a Comment

Mitos penciptaan berkaitan dengan cerita-cerita tentang penciptaan alam, dunia, atau mahluk ciptaan tertentu, seperti dongeng tentang kehidupan mahluk yang ditemui di suatu wilayah atau bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Di Amerika Serikat, misalnya, penduduk aslinya mempunyai mitos penciptaan sendiri. Dalam versi Maidu, penciptaan alam dimulai dari kegelapan yang pekat, air yang menggenang tanpa daratan. Di atas genangan air itu mengapung rakit yang diatasnya terdapat tiga mahluk mitologis yang mewakili binatang (sejenis kura-kura), manusia, dan benda menyerupai bumi (sebut sajalah dengan nama Kura-Kura, Manusia, dan Bumi). Si Bumi mempunyai kekuasaan dan pengetahuan tetapi tidak mengerjakan apa-apa sampai pada suatu ketika si Kura-kura mengajukan pertanyaan dan menginginkan tanah kering, dan menyatakan bersedia menyelam sampai ke dasar genangan air itu. Setelah lama menyelam ke dasar, ia kembali ke permukaan membawa secuil tanah yang lengket di cakarnya. Lalu si Bumi menjadikan secuil tanah ini tumbuh berkembang menjadi sekepal, dari sekepal menjadi sedepa dan kemudian berkembang terus menjadi sebesar dan seluas dunia ini. Setelah mendapatkan tanah yang kering, si Kura-kura pun masih komplain dengan kegelapan. Bumi kemudian memerintahkan saudara perempuannya, Matahari, untuk terbit di Timur dan terbang melintas angkasa yang luas itu. Ketika kegelapan muncul lagi, Bumi meminta saudara laki-lakinya menjadi bulan.

Dalam mitos lain, dunia tercipta dari jelmaan tubuh raksasa purba. Mitos Babylonia, sejak dua ribu tahun sebelum Masehi mendongeng tentang Marduk yang membunuh seekor naga bernama Tiamat, kemudian dari tubuhnya ia bagi dunia menjadi dua bagian, langit dan bumi. Di Jerman, dalam mitologi Teutonic, alam semesta tercipta dari tubuh raksasa bernama Ymir. Gunung-gunung adalah tangan-tangan raksasa ini, lautan adalah jelmaan darahnya, dan awan jelmaan dari otaknya. Ada pula dongeng tentang penciptaan yang dihubungkan dengan bentuk benda-benda angkasa. Dongeng orang !Kung-san di Afrika bagian Selatan berkisah tentang asal muasal bulan: ketika bulan (yang dibayangkan sebagai mahluk pertama) bangkit berdiri, matahari menusuknya dengan pisau. Bulan kemudian menanggalkan tulang punggungnya yang berbentuk bulan sabit. Lalu bulan ditemukan penuh dan bulat kembali setelah kematiannya. Siklus kelahiran bulan ini kemudian menjelaskan fase-fase perputaran bulan bagi masyarakat itu. Asal muasal mahluk lokal pun diungkapkan dalam mitos. Di pulau Kiriwana, Nugini, kehidupan masyarakat adatnya selalu dikaitkan dengan kisah-kisah pelayaran dengan perahu. Mitos tentang perahu magis mengisahkan mahluk-mahluk hidup maupun benda-benda yang terdapat di pulau itu, seperti dongeng tentang kesatria dengan perahu terbang yang membelah pulau sehingga terjadi selat, atau dongeng tentang perahu yang menjadi batu karang.

Sumber: Sherman, Josepha ed. (2008) Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, Volume One Sharpe Reference, New York.

Catatan Konsep Mitos (4)

•July 20, 2011 • Leave a Comment

Meski mitos berbagai masyarakat detailnya sangat bervariasi, dan jenis-jenis mitos yang dipandang penting sangat beragam dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain, tetapi sejumlah tema yang ditemui mempunyai persamaan terdapat di berbagai kebudayaan di seluruh dunia. Tema-tema universal yang paling umum adalah konsep tentang waktu, asal-muasal (origin), hari kiamat, dan lembaga-lembaga yang terdapat di dalam masyarakat. Peristiwa mitologis setingnya adalah masa lalu. Sejumlah mitos dipercaya berasal dari Timur Tengah, Yunani, dan dalam kebudayaan modern yang mempunyai kesamaan pandang tentang konsep jaman keemasan, yaitu suatu masa dimana kehidupan manusia dipandang sangat ideal sebelum mengalami kemerosotan dan kehancuran. Tema tentang asal-muasal (origin) meliputi terjadinya alam semesta, dunia, wilayah geografis atau formasi geografis, binatang dan perilaku binatang, dan manusia. Barbagai masyarakat mempunyai mitos tentang hari kiamat, yang berkisah tentang peperangan besar antara yang hak dan yang batil (baik dan buruk) atau kiamat dalam bentuk banjir yang menenggelamkan manusia di muka bumi. Mitos terkait lembaga kemasyarakatan berfungsi sebagai pembenaran atau pengesahan terhadap institusi yang dipakai oleh masyarakat yang menggunakan mitos itu. Contoh-contoh jenis mitos yang universal tidak pernah ditemukan dalam masyarakat di seluruh dunia. Namun, banyak masyarakat yang saling berbagi mitos berdasarkan tema atau motif dan karena merasa memiliki persamaan pengalaman dan sejarah.

Sumber: Sherman, Josepha ed. (2008) Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, Volume One Sharpe Reference, New York.

Catatan Konsep Mitos (3)

•July 20, 2011 • Leave a Comment

Karakter atau sifat-sifat ideal tokoh-tokoh dalam mitos selalu menjadi contoh yang ditiru, dipersonifikasikan oleh individu-individu dalam masyarakat pemilik mitologi bersangkutan. Tokoh-tokoh itu diciptakan berada di dalam dunia yang menyerupai dunia fana dan berperilaku ideal di dunia itu. Sejumlah dewa, seperti Dewa Thor menurut mitologi Nordik (Denmark, Norwegia, Islandia dan Swedia), yaitu “Dewa Petir,” yang diidentifikasikan sebagai “Si janggut berambut merah” (http://id.wikipedia.org/wiki/T​hor) adalah teladan bagi masyarakatnya dan dipercaya sebagai dewa pelindung dunia. Tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar yang sifat-sifatnya diteladani dalam kehidupan orang Jawa dianggap mewakili nilai-nilai kerakyatan dan kearifan. Sekelumit contoh ini memperlihatkan bahwa hubungan antara mitos dengan nilai-nilai sosial masyarakat bersangkutan begitu penting dan melekat dalam kehidupan mereka. Masih banyak tokoh-tokoh mitis yang tidak kita kenal dan tersimpan di kepala para ahli di tengah-tengah masyarakat adat. Seandainya pengetahuan itu tidak terekam, maka ia akan punah bersama kematian para ahlinya.

Sumber: Sherman, Josepha ed. (2008) Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, Volume One Sharpe Reference, New York.

Catatan Konsep Mitos (2)

•July 20, 2011 • Leave a Comment

Mitos sejarah dalam suatu kebudayaan selalu terkait hal-hal sakral dan diikat dalam konsep ruang dan waktu “masa lalu,” yaitu suatu masa ketika sebuah peristiwa supernatural dipercaya terjadi di alam lain. Peristiwa sakral yang melibatkan para dewa dan kekuatan supernatural itu dipercaya membentuk realitas kehidupan kekinian yang dihadapi masyarakat kebudayaan bersangkutan di dalam kehidupan nyata. Sejarah mitis memberi justifikasi kepada tatanan adat istiadat yang berasal dari konsep waktu mitis ini. Oleh sebab itu jangan heran kalau––dalam menjelaskan sebuah tradisi––para tetua/pemang-ku adat berbagai kebudayaan mungkin akan berkata, “… kami kerjakan hal itu seperti biasa kami lakukan sejak jaman dahulu kala.”

Kesakralan masa lalu pun direpresentasikan dalam mitos dan ritual. Apa yang dikerjakan para dewa atau mahluk lain di masa lampau (waktu mitis) dibangkitkan dan dihidupkan kembali dalam ritual yang dilakukan sekarang. Hal ini dilakukan melalui penampilan dalam upacara yang penuh variasi atau sederhana seperti, misalnya, perayaan natal yang mementaskan sebuah lakon untuk tontonan sandiwara anak-anak. Mitos-mitos dan ritual seperti ini sangat membantu menertibkan/menentramkan masyarakat dengan cara mengulangi cerita tentang perilaku para dewa, serta cita-cita dan keinginan ideal masyarakat. Mitos yang dinarasikan dalam ritual publik pada saat terjadi bencana kelaparan, perang, atau upacara penggantian pemimpin baru bisa memberi dampak menenangkan. Model kosmik dan sosial yang terpelihara dalam mitos dapat membantu menciptakan perdamaian dimasa perang atau melegitimasi suksesi politik, karenanya mitos bisa memulihkan rasa persatuan sosial.

Sumber: Sherman, Josepha ed. (2008) Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, Volume One Sharpe Reference, New York.

Catatan Konsep Mitos (1)

•July 20, 2011 • Leave a Comment

Kenapa orang percaya pada ccritera? Bahkan si Sampuraga atau si Malinkundang yang durhaka di alam mitis sana, dijadikan contoh kedurhakaan yang tak boleh ditiru dalam kehidupan nyata. Dunia modern pun memanfaatkan kekuatan berceritera yang disebut mitos ini ke dalam berbagai pendekatan. Produk visual dari sebuah iklan dengan pendekatan filming ala Hollywood yang memperlihatkan ketangguhan laki-laki bertualang dengan mobil off-road-nya di gurun tak lain adalah upaya membangun mitos yang dikaitkan dengan asap kretek. Dampaknya efektif: jutaan batang kretek terjual di pasaran setiap harinya. Pengisap kretek mempersonifikasikan diri mereka dengan ketangguhan yang dimitoskan melalui tayangan visual tak masuk akal itu. Bahkan sebagian dari anda pun, saya yakin, masih percaya bahwa kencing di bawah pohon bisa membuat “pesawat” anda bentan (bengkak), kecuali kalau minta ijin dengan mengucap “numpang kencing datuk” atau hanya sekedar mengucapkan “permisi”. Begitu kuat pengaruhnya dalam kehidupan, lalu apa sebenarnya “mitos” atau “mitologi itu? Dari sebuah sumber: Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, yang diedit oleh Josepha Sherman (2008), dijelaskan bahwa: Mitologi adalah kumpulan cerita-cerita sakral yang berfungsi untuk menjelaskan sistem kepercayaan dalam sebuah kebudayaan. Cerita-cerita tradisional yang disebut mitos ini terdapat di semua masyarakat di seluruh dunia. Mitos menjelaskan kepercayaan masing-masing kebudayaan tentang peran dan kekuatan supernatural menciptakan dunia termasuk benda-benda dan mahluk langit, alam, kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan, siklus kehidupan manusia dari kelahiran, dewasa, dan kematian. Mitos juga menjelaskan aspek sosial sebuah kebudayaan, termasuk masalah moral, peran, dan adat istiadat. Pendek kata mitos merekam kepercayaan yang dianut bersama, sekaligus membantu suatu komunitas mempertahankan identitas dasarnya. Memberi fungsi yang beragam, dari yang umum hingga yang spesifik. Fungsi umumnya terletak pada dukungan psikologis yang diberikannya, termasuk menawarkan model cara hidup yang dipandang wajar oleh suatu masyarakat.

Jakarta, 17/6/’11
Rizaldi Siagian

Sumber: Sherman, Josepha ed. (2008) Storytelling: An Encyclopedia of Mythology and Folklore, Volume One Sharpe Reference, New York.

Catatan Orientasi Komposisi Musik “Opera-Esai” Tan-Malaka

•April 28, 2011 • Leave a Comment

Dodecaphony (baca: dodekafoni). Ini terminologi yang digunakan untuk menyebut bentuk komposisi musik Tony Prabowo dalam libreto (teks opera) Tan Malaka, karya Goenawan Muhamad. Sekalipun Tony mengombinasinya dengan tekstur polifonis lainnya, dodecaphony adalah orientasi utama komposisinya. Istilah lain terhadap musik yang mengabaikan nada dasar dan harmoni triadis yang konvensional ini adalah “atonal”, “atonalitas” atau “serialism”. Pendekatan ini juga disebut sistem 12 nada yang dikembangkan dari 12 nada kromatis yang terdapat di dalam sistem tangga nada diatonis, pada musik Barat itu. Tokoh utama pengembang tehnik atonal ini adalah komponis Jerman, Arnold Schoenberg, pada tahun 1917-1923. Schoenberg berpendapat dodecaphony adalah jalan keluar paling pas terhadap pengembangan konsep kromatis, yaitu 12 tingkatan nada setengah yang kompleks dan dikembangkan selama 120 tahun terakhir di Eropah Barat.

Serialisme menurut sejarahnya adalah derivasi dari tradisi musik Romantik yang berkembang akhir abad 19. Terutama gaya Romantik Jerman yang diwakili para komponis seperti Beethoven, Wagner, Mahler, dan Schoenberg. Gaya Jerman ini melangkah ke pengembangan motif mikro dan supratonal pada konsep tangganada kromatis yang rumit itu. Sedangkan para komponis Rusia-Perancis, seperti Debussy, Ravel, dan Stravinsky termasuk etnomusikolog Bela Bartok mengembangkan konsep ini lebih cair, tidak kaku pada sistematika, dan lebih efektif ketika diaplikasikan secara bebas. Pendekatan terakhir ini yang terkesan diikuti Tony Prabowo pada komposisi opera Tan Malaka yg saya tonton (22/4/’11). Sekalipun, dalam dunia akademis, metode yang dikembangkan Schoenberglah yang dijadikan acuan. Dalam tulisan ini saya ingin menggambarkan tingkat kerumitan penulisan musik yang disebut dodecaphony, serialisme, atau sistem 12 nada ini terutama untuk bisa memahami dan mengapresiasi para komposer yang mencipta dengan pendekatan ini.

Metode awal penulisan komposisi musik atonal ini adalah dengan menciptakan deret-nada (susunan 12 nada) yang disebut row. Deret 12 nada yang disusun dalam row terdiri dari semua nada-nada yang terdapat pada tangga-nada kromatis. Jumlahnya harus 12 nada, tak kurang dan tak lebih, ditata berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Nada-nada kromatis masing-masing diberi nomer, dari angka 0 s.d. 11. Row (deret-nada) menurut metode Schoenberg adalah menghindar dari susunan yang terkesan membentuk nada dasar. Setelah row tersusun/tercipta, deretan 12 nada yang kemudian disebut prime (prima) ini dimainkan dengan variasi sbb: Yang pertama memainkan deret nada aslinya, misalnya spt karya Schoenberg berikut: Bb-E-Gb-Eb-F-A-D-Db-G-Ab-B-C. Retrograde, deretan 12 nada (row) dimainkan dari susunan nada yang paling belakang ke depan, contoh C-B-Ab-dstnya. Inversion, memainkan deret-12 dengan penempatan nada kebalikannya; inversion-retrograd, memainkan deret-nada (row) secara terbalik dan dibaca dari belakang. Informasi lebih lanjut bisa lihat pada http://en.wikipedia.org/wiki/Twelve-tone_technique

Dengan pendekatan ini maka nada-nada yang muncul dari komposisi atonal seperti ini, akan terasa janggal dan aneh. Para pemusik, terutama vokalis yang tidak terlatih akan kesulitan menyanyikan musik atonal ini. Bagi pendengar musik yang tidak mengenal konsep ini, atonal menjadi tak mudah dicerna. Menurut saya meski Tony tak sepenuhnya menggunakan metode ini, tapi saya yakin membuat nanar kuping mereka yang tak terlatih. Tapi, pilihan Tony ini berhasil mempertajam tensi libreto GM tentang teka-teki Tan Malaka dalam sejarah. Begitupun, kelemahan yang menonjol adalah justru datang dari upaya untuk menutupi kelemahan dalam penyajian bunyi. Hal ini ada kaitannya dengan potensi akustika gedung dan kapasitas pemain, terutama kekuatan suara penyanyi. Dimensi sumber bunyi yang secara visual tampak di pentas pindah ke speaker mono di kiri-kanan pentas. Sumber bunyi yang muncul di sebuah sudut pentas tak terdengar. Akibatnya antara kuping dan mata, antara yang dilihat dan yang didengar letaknya tak sinkron. Seorang ahli tata suara dari CBS pernah memberi saran tentang hal ini. Gunakan jenis mikrofon yang disebut PZM (presure zone microphone). Tentu sekarang lebih canggih. Tapi, yang paling dasar adalah kekuatan suara (istilah populernya power) si penyanyi itu sendiri, selain musicianship-nya.

Jakarta, 25 April 2011.

Ekspresi Musik: Catatan Seusai Konser Kitaro

•April 14, 2011 • 1 Comment

Di akhir konsernya, melalui jaringan sosial saya tulis: “Kitaro yang kutangkap adalah kelelahan yang amat sangat, kehilangan semangat, meski tertolong dentum taiko/ timpani dan impresi sakuhachi.“ Tak lama, muncul sejumlah tanggapan. Tapi bahasanya terasa menyembunyikan kekecewaan. Lalu saya tulis catatan berikut:

Saya menyaksikan Kitaro sebagai subjek bukan objek. Sebagai subjek seni berbicara, mengungkap atau mengekspresikan keadaan dirinya, keadaan yang dipengaruhi konteks dimana dia hidup, didalam situasi (termasuk saat) yang bagaimana karya itu dimainkan dan disajikan, … Pernyataan saya diatas sebenarnya menunjukkan kaliber kesenimanan seorang Kitaro … mengeks-presikan situasi kontemporer bangsanya yang sedang hancur luluh melalui konser dan perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Kondisi psikologis, kegelisahan, sedih, kehilangan, kelelahan yang dirasakan terungkap dalam permainannya. … Kitaro lebur dalam … kegalauan bangsa Jepang saat ini.

Dugaan saya benar. Dari komen-komen berikutnya terbersit kelegaan. Tapi persoalan konsep di belakang penafsiran makna sebuah konser, atau penolakan terhadap penafsiran itu masih belum terungkap dibalik basa-basi jejaring sosial itu. Mungkin catatan ini bisa memberi gambaran untuk mengidentifikasikan dimana sebenarnya posisi kita dalam mengapresiasi musik di tengah hiruk-pikuk industri hiburan negeri ini. Saya ingin memulainya melalui tinjauan sosio-musikologis yang menempatkan musik sebagai ekspresi dan kegiatan ekspresif yang memperlihatkan situasi dan hubungannya dengan masyarakat. Sedangkan pandangan dalam perpektif struktural yang membuka ruang interpretasi untuk membandingkan struktur musik dengan struktur sosio-kultural; serta pendekatan kontekstual dalam kaitan dimana musik disajikan serta bagaimana masalah sosial bisa mempengaruhi musik dan konstruksinya, akan saya tuangkan dalam tulisan terpisah.

***

Dag Österberg (2005:19) berargumen musik sebagai ekspresi dan kegiatan ekspresif berhubungan dengan sifat-sifat alami tubuh manusia yang berfungsi sebagai media ekspresi yang potensil dan bawaan lahir. Seperti perasaan senang, marah, takut, sedih, bisa diekspresikan melalui sinar mata, senyuman, atau gerakan anggota tubuh lainnya. Ekspresi yang diwarnai kekhasan budaya ibu ini pun sejak kecil sudah kita kenal dan ketika ekspresi ini dilakukan, ia tidak berlangsung asal-asalan; bahkan upaya mengelaborasinya adalah bertujuan untuk mengentalkan dan memperkaya makna yang hendak diungkapkan itu. Ekspresivitas adalah hubungan internal antara apa yang diekspresikan dan ekspresi itu sendiri. Teori dan konsep inilah yang mendasari sosio-musikolog Barat dalam menginterpretasikan ekspresi musik.

Dalam sejarah musik Barat, musik sudah dianggap sebagai ekspresi perasaan, paling tidak, setelah jaman Barok, 1750. Tapi pendekatan ini sesungguhnya sudah dimulai sejak renaisance. Di jaman Rococo dikaitkan dengan emosi, dan puncaknya adalah di jaman Romantik: jaman kejayaan musik instrumental yang juga disebut jaman peluapan emosi tak terbatas. Di awal abad 20, ekspresivitas digegerkan oleh pandangan Stravinsky yang menyatakan “musik tidak mengekspresikan apa-apa.” Sejak itu sejarah musik Barat berusaha menggayuti “objektivitas baru.” Tetapi anti-romantisme ini tak pernah sukses. Sampai saat ini budaya musik Barat masih dalam domain ekspresivitas ini. Tetapi di balik sejarah itu, pertanyaan besarnya adalah bagaimana cara masyarakat dan budaya Barat mengapresiasi ekspresi musik ini? Bagaimana para ahli (sosiolog, musikolog) melihat hubungan ekspresi musikal dengan struktur sosialnya. Situasi dan struktur sosial seperti apakah yang bisa diekspresikan melalui musik, atau musik seperti apakah yang bisa dikatakan mewakili struktur sosial itu?

Pendekatan para ahli untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaan ini adalah melalui musik itu sendiri. Yaitu melalui rekaman bunyi yang dicatat dalam simbol-simbol, pengkodean, teori musik Barat. Susunan bunyi yang bisa diidentifikasikan melalui kode-kode musik itu dimaknai mewakili suasana dan perasaan hati pada saat musik itu dimainkan atau diperdengarkan—tentu dalam konsep budaya musik Barat. Nada minor dipersepsikan mewakili suasana/rasa sedih. Konsep blue note dalam musik blues adalah nada sedih, yaitu nada ters minor dalam akor mayor. Sedangkan nada-nada mayor dimaknai sebagai suasana hati gembira, ceria.

Sekedar membandingkannya dengan musik orang Toba, misalnya, nada mayor sebaliknya mengekspresikan melodi yang pedih memilukan. Terutama tradisi ratapan (lamenta) dalam upacara kematian yang disebut mangandung. Lompatan nada ters minor —dalam akor dasar minor—tidak dikenal pada musik vokal ini. Dengan meminjam teori musik Barat mendeskripsikannya, dapat dipastikan melodi sedih yang menyayat hati itu menggunakan kualitas tangga nada mayor. Ini bukan mengada-ada, tetapi ciri-ciri dan warna budaya musik Toba itu sendiri. Kalau penyeteman (tuning) alat musik hasapi juga dideskripsikan melalui teori musik Barat, misalnya, maka dua dawai yang terdapat pada alat musik ini menghasilkan interval ters mayor: nada do pada tali kedua, dan nada mi pada tali satu (E – G#). Contoh lain, kalau anda punya rekaman lagu-lagu Toba berirama sedih, seperti Inang (Charles Hutagalung), itu bukan dari tangganada minor, tapi “mayor.”

Akor konsonan, yaitu susunan tiga nada vertikal yang konvensional—seperti do, mi, sol, (c, e, g) dalam konsep harmoni tradisional—dikonotasikan keselarasan, kemapanan, dan kerukunan sosial, sedangkan akor-akor disonan (harmoni modern yang bersuara miring seperti akor jazz, misalnya) dikonotasikan sebagai konflik, perselisihan, dan permusuhan. Benturan nada-nada yang rapat berjarak setengah langkah (100 cent) pada akor disonan dianggap mewakili konfilk sosial. Dalam komposisi musik Barat, pergeseran antara tangga-nada mayor dan minor sengaja diciptakan dan direkayasa terus menerus. Begitu pula kombinasi akor atau bentuk harmoni konsonan, disonan, serta modulasinya terjadi secara terus menerus.

***

Melalui pandangan ini pula, sosio-musikologis menginterpretasikan karya-karya musik klasik Barat tiga abad lampau sebagai ekspresi yang merepresentasikan solidaritas sosial, mengekspresikan bagaimana perjuangan hidup bisa diatasi, keselarasan sosial bisa dibangun dan dimatangkan. Saat itu musik konsonan mendominasi musik disonan. Ini dimaknai bahwa keharmonisan sosial lebih diutamakan daripada konflik sosial. Melalui perspektif ekspresi inilah interpretasi musik Barat dilakukan. Cukup lama. Lalu, melalui pendekatan intelektual Beethoven pun “dinobatkan” menjadi “raja” musik Romantik karena kejeniusannya menyusun konflik, ketegangan, dan klimaks yang mewakili simbol-simbol keselarasan sosio-musikal Barat. Dunia Barat memuji-muji musik Beethoven sangat ekspresif, punya kekuatan heroisme dan semangat menghadapi kehidupan. Karyanya dianggap teladan karena menggerakkan masyarakat (Barat) bertarung untuk keadilan dan kebenaran.

Memasuki awal abad 20 musik klasik Barat cenderung berbunyi “sumbang”, miring, dan disonan. Bentuk harmoni ini semakin dikaitkan dengan kondisi sosial. Ia diinterpretasikan sebagai gambaran meningkatnya konflik sosial. Catatan sejarah semakin tebal oleh munculnya dua tokoh musik abad dua puluh, Igor Stravinsky dan Arnold Schoenberg yang mengedepankan bentuk-bentuk harmoni disonan di tahun 1910-an. Di Jerman Schoenberg yang juga dikenal sebagai pelukis berbakat ini didaulat sebagai tokoh gerakan seni ekspresionisme yang diakui sejarah mengakar di jaman Romantik (Apel, 1969:302). Musik disonan yang dikembangkannya diklaim sebagai musik sesungguhnya, karena mewakili konflik dan ketegangan sosial.

Dampaknya memunculkan pandangan bahwa musik yang hamonis dianggap menghindari dan menyembunyikan konflik kehidupan sosial. Ekspresinya dianggap ingin mempertahankan kekuasaan dan kemapanan. Musik seperti ini sering dianggap musik ideologis yang oleh paham Marxist dituduh tak ingin menjadi korban ilusi sosial. Tetapi, musik untuk ilusi seperti ini justru sangat ramai di dunia Barat. Contoh radikalnya adalah musik yang disebut muzak. Musik ini diproduksi untuk menciptakan suasana selaras, adem ayem, dan muzak diputar melalui plafon-plafon mall, merekayasa suasana tenang dan merangsang orang untuk merogoh kantong untuk membeli.

Namun demikian banyak juga musik yang karakternya bertentangan dengan muzak. Dalam perpektif ini, misalnya, musik rock ditafsirkan mengekspresikan kekerasan, memperlihatkan perilaku agresif suatu masyarakat. Tuduhan tak bermoral pun dilontar terhadap sejumlah genre musik musik lain. Bahkan musik jazz tahun 1920-an pun dimasukkan kategori ini. Ia dianggap mengekspresikan perilaku yang tak diinginkan; bisa berakibat demoralisasi pada pendengarnya. Mungkin pandangan ini muncul sejalan dengan rasialisme yang terjadi pada masa itu.

***
Konsep sosio-musikologis yang mengisi ruang-ruang interpretasi musik Barat ini mewarnai komentar saya setelah menyaksikan konser Kitaro di Jakarta (JCC Senayan), tanggal 7 April 2011 yang lalu. Suara seruling Jepang, sakuhachi, mendominasi warna bunyi synthesizer malam itu. Tak ada yang baru. Tapi disonansi akor dan efeknya merangsang ingatan visual yang ditayangkan Al Jazeera saat Jepang diterjang tsunami tanggal 11 Maret 2011 lalu. Lalu, pertunjukan itu pun terasa lesu. Kegarangan permainan dan dentuman suara Taiko, gendang besar disebut “thunder drum” itu menggelegar mendorong semangat sesaat, tapi kembali lesu. Malam itu Kitaro bukan seorang selebritis, tapi seniman Jepang yang jujur berekspresi. Ia sukses mengekspresikan kesusahan bangsanya melalui konser itu.

RS
Jakarta, 13 April 2011.

Apel, Willi. 1969, Harvard Dictionary of Music, 2nd Edition, Revised and Enlarged, Cambridge, Massachusetts, The Belknap Press of Harvard University Press.

Österberg, Dag. 2005. “General Socio-musicological Concepts: Expression, Structure, and Context” in Hammarlund, Anders, Olsson, Tord, and Özdalga, Elisabeth. 2005. Sufism, Music and Society in Turkey and The Middle East. Swedish Research Institute in Istanbul